Tanda-Tanda Hati yang Bersih dan Kiat Membersihkan Hati

Sebagai agama yang sempurna, Islam tidak saja memperhatikan urusan kebersihan fisik atau jasmani yang bisa langsung terlihat dan dinilai secara kasat mata. Kebersihan diri dan lingkungan, misalnya. Kedua jenis kebersihan ini akan segera terlihat ketika seseorang belum mandi atau lingkungannya belum dibersihkan.  Mereka yang melihatnya pun akan dengan mudah menilai tingkat kebersihannya. 

Lebih dari itu, Islam ternyata juga sangat memperhatikan kebersihan rohani atau hati, yang sifatnya lebih tersembunyi. Dengan kata lain,  tidak bisa langsung terlihat begitu saja. Bahkan, menjaga kebersihan hati merupakan salah satu kewajiban yang paling penting untuk diperhatikan. 

Bagi manusia, hati dapat diibarat sebagai  raja bagi anggota tubuh lainnya.  Bila hati itu baik, akan baiklah seluruh anggota tubuh lainnya. Sebaliknya, bila hati rusak atau sakit, akan rusak atau sakit pula anggota tubuh yang lain.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya di setiap jasad ada sekerat daging. Manakala sekerat daging tersebut baik, akan baik pula seluruh jasad. Namun, manakala sekerat daging tersebut rusak, akan berakibat rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah, sekerat daging tersebut adalah kalbu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hati manusia pun terdiri ada beberapa macam. Ada hati yang sakit atau qalbun maridh. Ada hati yang mati atau qalbun mayyit. Dan terakhir adalah hati yang bersih, selamat atau sehat yang disebut dengan qalbun salim. Dua jenis hati yang pertama adalah hati yang terkena keburukan atau tidak selamat, sementara hati yang terakhir itulah hati yang selamat. Dan hati yang bersih dan selamat inilah yang akan dibahas dalam tulisan ini.

Hati yang bersih akan tercermin lewat lurusnya akidah, mulianya akhlak, serta indahnya perilaku keseharian.  Hati yang bersih adalah hati yang selamat, maksudnya adalah hati yang bersih dari kesyirikan, penuh keikhlasan dan ketaatan, serta kecintaan kepada Rabbnya. Dengan kebersihannya inilah, sang pemilik hati kelak akan menjadi orang-orang yang selamat dunia akhirat. Dan kelak, di hari akhir, pemiliknya akan mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lalu bagaimana caranya menilai sebuah hati, apakah ia termasuk hati yang bersih dan selamat atau tidak. Pada hakikatnya, hati yang bersih mempunyai beberapa tanda. Di antaranya adalah:

Senantiasa Mendahulukan Hal-Hal yang Bermanfaat

Tanda kebersihan hati seseorang adalah ia selalu mengutamakan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya, baik dunia maupun akhirat. Mendahulukan hal-hal yang akan menambah keimanannya, seperti menuntut ilmu syar’i, tadarrus dan tadabbur Al Qur’an, membaca buku-buku yang bermanfaat, dan sebagainya.

Senantiasa Mendahulukan Kepentingan Akhirat 

Hati yang bersih akan selalu mendahulukan kepentingan akhirat daripada dunia. Ia sadar bahwa dunia hanyalah sementara karena itu ia mengejarnya cukup sekadarnya. 

Senantiasa Mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala

Di manapun dan kapan pun, hatinya selalu tertambat pada-Nya. Ia juga menyadari hakikat dirinya sebagai seorang hamba yang penuh dengan noda dan dosa. Karenanya, ia selalu beristighfar, meminta ampun, dan bertobat pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hidupnya pun sepenuhnya hanya digantungkan kepada-Nya.

Senantiasa Beribadah Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Tak pernah jemu melakukan ketaatan dan ibadah kepada-Nya. Justru, ia selalu rindu untuk berada dalam ketaatan karena hanya dengan itulah, ia bisa merasakan ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan. 

Senantiasa Bersedih Apabila Terluput dari Mengerjakan Ketaatan atau Ibadah

Hati yang bersih akan sangat bersedih ketika ia kehilangan kesempatan melakukan kebaikan atau ibadah. Kesedihannya bahkan melebihi kesedihan orang yang kehilangan harta benda yang sangat disayanginya. Terlebih, bila ketaatan atau ibadah tersebut selama ini rutin dilakukannya. Misalnya, ia rutin mengerjakan shalat Dhuha, berdzikir pagi dan petang, dan sebagainya.

Kiat Membersihkan Hati

Hati yang bersih, tentu saja tidak  diperoleh dengan sendirinya. Harus ada usaha yang sungguh-sungguh dari pemiliknya untuk mendapatkannya. Terlebih, hati sangat mudah mengalami perubahan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda yang artinya, “Sesungguhnya hati Bani Adam berada di antara dua jemari dari jari jemari ar-Rahman. Dia membolak-balikkannya sebagaimana Dia kehendaki.” (HR. Muslim)

Pada hakikatnya, hati itu lemah, maka kita harus senantiasa menjaganya. Jika seseorang dapat menyembunyikan isi hatinya dari pandangan manusia, namun tidak sekali-sekali ia dapat menyembunyikannya dari pandangan Rabb-Nya. Sekalipun hanya setitik, bahkan lebih sedikit dari itu.

Karenanya kebersihan hati sangat penting. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan demi mendapatkan hati yang bersih.

  • Memurnikan tauhid. Meyakini hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berhak disembah dan ikhlas menjalankan ibadah hanya karena-Nya.
  • Menjaga keimanan yang telah tersemat di dalam hati. Terlebih, di zaman ini telah banyak orang yang rela menanggalkan keimanannya demi mendapatkan dunia yang hanya sedikit. 
  • Banyak-banyak bertobat dari kesalahan dan dosa yang telah dilakukan selama ini. Selain itu juga bertekad untuk tidak lagi melakukan kesalahan dan dosa tersebut.
  • Banyak-banyak berdzikir di manapun dan kapan pun. Dengan berdzikir, hati akan menjadi lebih tenang sehingga kegundahan dan kesempitan hidup dapat berkurang dan teratasi.
  • Memperbanyak melakukan kebaikan kepada sesama makhluk. Orang yang selalu membantu orang lain akan merasakan satu kebahagiaan tersendiri yang hanya akan dirasakan oleh para dermawan. 
  • Tidak berlebih-lebihan dalam perkara yang dibolehkan. Di antaranya seperti berlebih-lebihan dalam pergaulan, makan, minum, dan sebagainya.
  • Menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu-ilmu syar’i yang berguna untuk kehidupan di dunia dan akhirat serta lebih mengutamakan perkara akhirat daripada dunia.
  • Senantiasa qana’ah yakni selalu merasa cukup dengan rezeki dan nikmat  yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya.
  • Senantiasa bertawakkal kepada Allah dan mengedepankan husnuzhan atas semua musibah maupun cobaan yang menimpanya.
  • Senantiasa menyebut-nyebut nikmat Allah. Dengan mengingat banyaknya nikmat yang telah Allah berikan, maka hati akan terlepas dari kebimbangan dan kesusahan hidup.

Tentu saja, masih banyak hal lagi yang dapat dilakukan untuk mendapatkan hati yang bersih dan selamat. Karena itu, marilah kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar senantiasa memperbaiki keadaan kita, termasuk keadaan hati kita. Dan agar Allah  tidak menyerahkan diri-diri kita kepada kita sendiri, meski hanya sedetik. Aamiin Ya Rabbal Alamin.[]

Sumber Artikel: wiz.or.id

Tinggalkan komentar

Home
Donasi
Zakat
Rekening