Tarbiyah Anak: Mengembalikan Kesejatian Peran Orangtua

Tanpa bermaksud mengecilkan peran sekolah, dunia persekolahan adalah dunia yang tidak pernah mengandung anak-anak kita, juga tidak pernah melahirkan anak-anak kita. Karenanya, dunia persekolahan bukanlah dunia yang sungguh-sungguh mampu mengenal dan mencintai anak-anak kita dengan murni, tulus, dan ikhlas. Sejatinya, yang betul-betul menginginkan kebahagiaan anak-anaknya, dengan murni, tulus, dan ikhlas, lebih dari siapa pun di muka bumi, adalah orang tua.

Kedua orang tualah yang paling mengenali potensi dan keunikan anak-anaknya. Dari keduanyalah, karakter-karakter baik dan luhur pada anak seharusnya dikembangkan dan disempurnakan dengan akhlak mulia, lebih awal dari yang lainnya. Bukankah, anak-anak kita adalah amanah yang harus dididik sebagai generasi peradaban bagi dunia yang lebih damai dan sejahtera yang akan membanggakan umat Muhammad di hari akhirat kelak? 

Masa mendidik anak-anak kita dengan bonding yang kuat mungkin tidaklah lama. Umumnya, mungkin hanya berlangsung sampai usia akil balig (usia 14-15 tahun). Mungkin juga di sebagian keluarga bisa berlangsung sampai anak berusia 20-an tahun. Sebuah masa yang singkat, masa yang mungkin setara dengan seperempat atau sepertiga dari usia kita orang tuanya. Itu pun jika Allah memberikan jatah 60-an tahun kepada kita. Padahal anak-anak dan keturunan yang saleh akan menentukan kebahagiaan akhirat kita dalam masa yang tiada berbatas. Namun sayang, amanah terindah ini justru kerap diserahkan sepenuhnya ke lembaga, ke asrama, ke sekolah dan lainnya, di masa-masa bounding terkuat itu. 

Saat tiba masanya nanti, anak-anak kita akan hidup lebih lama dari kita, walau bisa saja mereka mendahului kita karena telah dipanggil oleh Sang Khalik. Dalam menjalani masa depannya nanti yang tanpa kehadiran kita, anak-anak kita akan mengenang kita. Anak-anak kita akan memanggil kenangan-kenangan yang memunculkan kesan-kesan dan imaji-imaji yang baik, positif, tulus, penuh cinta, dan utuh, tentang masa lalu mereka bersama kedua orang tuanya. Itu semua akan membuat mereka kuat menghadapi masa ketika mereka dewasa kelak. Itu semua hanya diperoleh pada masa yang singkat, 15-20 tahun pertama dalam kehidupannya, yang diberikan oleh orang tuanya dengan tulus dan ikhlas, tak tergantikan oleh siapapun.

Lihatlah wajah teduh anak-anak kita ketika mereka terlelap. Beberapa tahun ke depan, wajah-wajah itu akan berubah menjadi wajah orang dewasa yang setara dengan kita. Di saat itu, kita hampir-hampir tidak punya lagi kesempatan untuk mengubah atau memperbaiki karakter yang sudah terbentuk, apalagi menyempurnakan akhlak mereka. Apa yang akan kita jawab di hadapan Allah Ta’ālā atas karakter-karakter yang sudah terbentuk di masa-masa dimana kita seharusnya hadir di sana?

Jika sempat, lihatlah pula wajah-wajah bengis nan mengerikan pada anak-anak dan remaja yang terlibat tawuran. Perhatikanlah wajah sayu dengan tatapan kosong pada anak-anak depresi dan korban narkoba. Jenguklah sosok remaja-remaja galau dengan mata bingung dan frustrasi di balik tawa dan canda yang tak bermakna. Apakah mereka berdoa dan berharap lahir ke dunia dalam keadaan seperti itu? Tentu saja tidak. Bisa jadi, mereka adalah korban kelalaian para orangtuanya. Bisa jadi, mereka adalah korban obsesi para orangtua yang merusak fitrah baik mereka.

Padahal, dahulu mereka adalah bayi-bayi mungil yang lucu, dengan senyum, tawa, dan tangis yang meluluhkan hati. Bagaimana bisa di kemudian hari bayi-bayi ini menjadi beringas dan jahat? Ingatlah, setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam (keadaan) fitrah. Kedua orang tuanya (lah) yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, 2/100: 1385) Semua fitrah baik yang ada dalam diri mereka tidak berubah, hingga lingkungan, pergaulan, orangtua, dan lainnyalah yang merubahnya sehingga fitrahnya terluka dan tersimpangkan dari kesuciannya.

Anak-anak kita bukanlah kertas putih yang bisa dijejali dengan tulisan sebanyak-banyaknya dan semaunya. Anak-anak kita adalah mutiara yang mesti disucikan dan disadarkan akan keindahan dan keunikan yang ditakdirkan oleh Allah Ta’ālā untuk memilikinya. Mutiara yang tidak perlu diasah, tetapi hanya perlu diletakkan pada tempat yang sesuai dan terang agar cahayanya berkilau sempurna.

Kita jangan “gegabah” menjejali mutiara ini dengan beragam zat imitasi dengan maksud agar ia semakin indah. Tidak perlu. Mutiara ini hanya perlu ditemani, disentuh dengan cinta yang tulus, dan diletakkan pada tempat dan sudut yang tepat sehingga cahayanya berpendar-pendar indah menebar manfaat dan rahmat menyelimuti dunia. Cahayanya menjadi penyejuk mata kita, sebagaimana doa-doa kita tentang mereka.

Apa yang diharapkan dari sebuah rumah tangga atau keluarga tanpa ada aktivitas tarbiyah di dalamnya? Apakah rumah kita hanya sebuah ruang hampa, tempat makan, tidur, mandi, dan buang hajat? Sebagaimana Al-Qur’an yang akan menerangi rumah kita dengan membaca dan menadaburinya, maka sebuah rumah tangga atau keluarga dengan aktivitas tarbiyah di dalamnya juga akan dipenuhi cahaya. Sebuah rumah tanpa aktifitas tarbiyah di dalamnya, bagai ruang kusam dan gelap, karena di dalamnya tidak ada proses saling memberi cahaya, yaitu proses mendidik-dididik, menasehati-dinasehati, dan menumbuhkan-ditumbuhkan.

Sebuah rumah tangga sejatinya bukan hanya kumpulan fisik, melainkan ia lebih kepada kumpulan ruh, hati, dan pikiran. Apa jadinya jika pikiran dan hati ayah sehari-hari hanyalah pikiran tentang pekerjaan dan masalah kantor yang dibawa ke rumah sehingga menyerobot hak pendidikan anak dan keluarganya? Apa jadinya jika pikiran dan perasaan bunda sehari-hari hanyalah pikiran tentang kepastian sang ayah mampu menyediakan biaya untuk sekolah dan kepastian sang anak mampu menyediakan waktu untuk bersekolah sepenuh masa? Apa jadinya jika pikiran dan hati anak hanyalah pikiran dan perasaan tentang pekerjaan dan masalah sekolah yang dibawa ke rumah, yang menyerobot hak orangtua untuk mendidiknya dan dididik oleh orang tuanya?

Tentu saja ada orangtua yang memiliki pikiran dan keinginan untuk menarbiyah atau mendidik di dalam rumah. Namun sayangnya, wacana dan pembicaraan sekitar pendidikan bagi banyak keluarga adalah bukan pembicaraan tentang kesejatian sebuah tarbiyah, melainkan tentang pekerjaan sekolah yang dibawa ke rumah, yang dilabeli sebagai “pekerjaan rumah” bukan pekerjaan sekolah, padahal aktivitas sekolah dan aktivitas rumah adalah dua hal yang berbeda.

Obrolan tentang pendidikan bagi banyak keluarga adalah obrolan seputar ranking, ijazah, prestasi-prestasi akademis, dan tugas-tugas sekolah, bukan tentang bagaimana menjaga dan mengembangkan karunia fitrah yang dimiliki dan dianugerahkan kepada anak-anak kita. Akhirnya, aktivitas sekolah kerap “menyerobot” aktifitas pendidikan rumah yang luhur. Posisi tarbiyah di dalam rumah sebagai “sekolah” yang pertama dan utama terpaksa tergusur.  

Begitu juga, mindset sebagian keluarga tentang makna pendidikan anak yang sukses adalah tak jauh dari sekitar sekolah favorit, rangking yang tinggi, ijazah dan gelar yang banyak. Makna belajar kerap dimaknakan dengan kegiatan menghabiskan bahan pelajaran dan persiapan ujian. Makna tentang tempat belajar lebih sering dimaknakan dengan stigma bahwa tempat belajar terbaik adalah di sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan. Padahal bukan itu sebenarnya. Makna “tarbiyah anak yang sukses” sejati adalah ketika anak-anak kita mampu menyadari tujuan penciptaannya (beribadah kepada Penciptanya dengan tauhid yang murni dan mengikuti tuntunan Rasulullah), menjadi khalifah di muka bumi, dan menjalani visi peradaban dengan memberi rahmat dan manfaat yang banyak bagi sesama dan semesta. 

Murabbi/pendidik yang sesungguhnya secara mutlak adalah Allah ‘azza wa jala bagi seluruh alam (Taisīr al-Karīm al-Raḥmān fī Tafsīr al-Kalām al-Mannān, Tafsir Surat al-Fātiḥah, 39), karena Dia-lah al-Khāliq, Pencipta fitrah dan Penganugerah berbagai bakat manusia. Dia-lah pula yang telah menyediakan jalan bagi tumbuh, berkembang, dan bekerjanya fitrah serta bakat-bakat manusia secara bertahap. Dia-lah yang telah menetapkan syariat agar fitrah-fitrah itu tumbuh semakin sempurna, bagus dan menjadi berbahagia. Karenanya, tarbiyah (oleh kedua orang tua kepada anak-anaknya) harus dilakukan sejalan dengan cahaya syariat Ilahi dan selaras dengan hukum-hukum syariat Ilahi. Tarbiyah juga harus dijalankan secara terencana dan bertahap dimana tahap yang satu berpijak pada tahap yang lain, dan tahap yang sebelumnya menjadi dasar bagi persiapan tahap berikutnya (Madkhal Ilā al-Tarbiyah fī Ḍau’i al-Islām, 7-13).

Oleh karena itu, Ayah-Bunda, mari menarbiyah anak-anak kita dengan tangan, hati, mata, telinga, lisan kita sendiri. Membangun “tarbiyah di dalam rumah” sesungguhnya bukan pilihan, tetapi kewajiban setiap orang tua. Porsi dari kuantitas waktu dan kualitas perhatian terhadapnya, mesti jauh lebih banyak dan tinggi dibandingkan porsi persekolahan dan lainnya.

Kewajiban mendidik bagi orang tua sesungguhnya belum selesai dan cukup ketika anak-anak telah berada sepenuh waktu di sekolah dan di lembaga-lembaga pendidikan yang ada. Mari kembalikan fitrah kesejatian peran orang tua, kesejatian fungsi rumah, kesejatian tarbiyah, dan kesejatian anak-anak kita. Jangan sekali-kali merubah fitrah kesejatian itu, karena itulah sesungguhnya penyebab berbagai krisis dan kerusakan di dunia. Wallāhu a’lam.

Oleh: Azwar Iskandar, S.E., M.Si., M.A.P., CBPA. (Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar)

Sumber artikel: wiz.or.id

Home
Donasi
Zakat
Rekening