Mereka tahu itu sampah. Mereka tahu itu sisa. Tapi bagi perut yang sudah berhari-hari kosong, sampah pun punya wangi yang mewah. Mereka tidak lagi mencari rasa kenyang. Kenyang itu sudah jadi barang langka di Gaza. Mereka hanya ingin mengejar “bau” makanan. Agar tubuh mereka tidak lupa bagaimana rasanya punya energi.
Dunia mungkin sibuk berdebat. Sibuk memoles citra. Sibuk bicara soal pemulihan. Tapi lihatlah tangan-tangan yang gemetar itu. Gemetar karena lapar. Gemetar karena haus.
Anak-anak ini sedang dikunyah oleh keadaan. Rumah mereka hilang. Masa kecil mereka dirampas.
Dulu, cita-cita anak Gaza mungkin ingin jadi dokter. Jadi insinyur. Atau jadi pilot. Sekarang? Cita-cita mereka cuma satu: bisa bertahan hidup sampai besok pagi.
Begitu rendahnya ambisi itu dipaksa turun.
Sampai kapan “bertahan hidup” menjadi satu-satunya mimpi yang tersisa bagi anak-anak Gaza? Dunia harusnya malu. Malu pada punggung-punggung kecil yang harus membungkuk demi sisa kulit ayam ini.