Namanya Salem Al-Najjar. Masih balita. Lucu sekali kalau sedang sehat. Tapi kini ia tidak bisa lagi tertawa. Jangankan tertawa, membuka mata saja ia belum mampu.
Dunia Salem runtuh seketika. Sebuah serangan udara jatuh tepat di dekat rumahnya. Salem tidak tahu apa-apa. Ia hanya tahu, tiba-tiba dunianya gelap.
Luka-lukanya mengerikan. Dokter bilang ada pendarahan hebat di otaknya. Otaknya membengkak. Hatinya juga cedera parah—grade III. Paru-paru kirinya memar.
Kini, hidup Salem hanya tergantung pada selang-selang. Ada ventilator yang memompa nafasnya. Tanpa mesin itu, Salem tamat.
Masalahnya bukan soal dokter yang tidak mau menolong. Para medis di sana sudah berjuang habis-habisan. Tapi fasilitasnya sudah tidak ada. Alatnya tidak cukup. Obatnya habis. Rumah sakit setempat sudah menyerah pada keadaan.
Dokter memberikan peringatan keras: Salem harus segera dibawa keluar. Evakuasi medis ke luar negeri adalah harga mati. Kalau tidak, nyawa bocah ini tinggal hitungan hari. Bahkan jam.
Ini adalah perlombaan antara birokrasi dan kematian.
Kita butuh dunia bergerak. Kita butuh lembaga internasional tidak sekadar prihatin. Salem butuh transfer medis segera. Ia butuh rumah sakit spesialis yang masih punya alat lengkap.
Salem masih ingin hidup. Ia masih ingin melihat hari esok. Jangan sampai nyawa bocah ini kalah oleh lambatnya keputusan politik dan evakuasi.
Satu detik bagi kita mungkin biasa saja. Bagi Salem, satu detik adalah taruhan nyawa.
#SaveSalem#SalemAlNajjar#EvakuasiMedis#Kemanusiaan#GazaUpdate#MedicalEvacuationNow