Namun di Gaza, kedatangan musim panas justru menghadirkan ketakutan baru.
Saat terik menyengat, tenda-tenda kanvas tempat mereka mengungsi berubah menjadi oven yang mencekik. Di tengah krisis air, listrik yang padam, dan kepungan debu, hal terasing di sana adalah sepetak teduh.
Bahkan seteguk air dingin kini menjadi kemewahan yang tak terbayangkan. Setiap tetes harus dihemat—harus memilih antara membasahi kerongkongan yang dahaga atau membasuh luka.
Malam hari pun tak lagi membawa istirahat. Di balik kegelapan tanpa listrik, malam berubah jadi pertempuran melawan rasa panas yang pengap dan serbuan nyamuk yang tak kenal ampun. Anak-anak terbangun, merintih merindukan rasa sejuk yang tak kunjung datang.
Bagi mereka, hidup kini terasa seperti ujian bertahan yang berulang setiap hari.
Saat kita bisa dengan mudah meneguk air dingin atau menikmati ruangan ber-AC hari ini, selipkan doa untuk mereka. Semoga ada sepoi angin sejuk dan kedamaian yang segera menghampiri bumi Gaza.




Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.