Di era di mana segala sesuatu diukur dari apa yang tertangkap oleh lensa, kita seringkali terjebak untuk terus memoles apa yang tampak di luar. Kita sibuk memastikan sudut terbaik, cahaya yang pas, dan rupa yang menawan di layar-layar kecil itu. Namun, sudahkah kita bertanya pada hati sendiri; jika suatu saat raga ini tak lagi ada, apa yang akan tetap hidup dalam ingatan mereka?
Menjadi “gelas-gelas kaca” bukan berarti kita harus rapuh, melainkan menjadi bening. Bening hati dan niatnya, seperti ibunda Khadijah, Aisyah, hingga Fatimah Az-Zahra radhiyallahu ‘anha.
Jadilah wanita yang ketika waktunya pulang tiba, yang dikenang bukan lagi paras atau fotonya, melainkan kebaikan yang pernah ia tebar secara diam-diam.
Semoga kita tidak hanya sibuk menghias diri untuk dunia, tapi juga sibuk menabung jejak kebaikan yang akan menemani kita di hadapan-Nya nanti. Karena pada akhirnya, amal adalah satu-satunya “potret” yang tidak akan pernah pudar warnanya.
