Seringkali kita merasa lelah karena mencoba menjadi “segalanya” bagi semua orang. Kita membebani pundak dengan ekspektasi yang bukan milik kita, hingga lupa bahwa energi yang kita miliki itu ada batasnya. Kita berlari ke sana kemari hanya untuk memastikan tidak ada satu pun wajah yang kecewa, namun tanpa sadar, wajah kita sendirilah yang kian layu.
Belajarlah untuk memperlakukan siapa pun dengan sewajarnya. Secukupnya saja.
Sebab, kita tidak pernah diwajibkan untuk memenangkan seluruh hati manusia di bumi ini. Tugas kita dari-Nya sebenarnya sangatlah sederhana: cukup untuk tidak menyakiti, cukup untuk tidak menjadi duri bagi orang lain. Selebihnya? Biarlah itu menjadi urusan mereka dengan hatinya masing-masing.
