Ada yang bilang, bagian tersulit dari sebuah perjalanan bukanlah saat melangkah pergi, melainkan saat garis finis sudah mulai terlihat di pelupuk mata. Kita sering kali kelelahan tepat sebelum sampai. Padahal, di sepuluh tikungan terakhir inilah, Ramadan justru sedang menyimpan rahasia terbaiknya.
Mari bicara tentang “mengencangkan ikat pinggang”.
Dahulu, Baginda Nabi ﷺ memberikan teladan yang sangat manusiawi sekaligus surgawi. Dalam sebuah riwayat dari Siti ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:
“Rasulullah ﷺ apabila memasuki sepuluh malam terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malam-malam tersebut, dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Mengencangkan sarung bukan sekadar kiasan tentang pakaian. Itu adalah sinyal darurat cinta. Sebuah pernyataan bahwa istirahat bisa menunggu, tapi ampunan Tuhan tidak datang dua kali dalam waktu dekat. Beliau tidak ingin selamat sendirian; beliau membangunkan keluarganya, mengajak semua orang yang dicinta untuk ikut “menang” di menit-menit akhir.
Mari kencangkan semangat lagi. Kencangkan niat sampai kita temukan ampunan Allah Ta’ala.
