Seringkali kita terjebak dalam derap langkah yang tergesa, memburu apa-apa yang nampak oleh mata; tumpukan harta, tingginya tahta, atau riuhnya pujian sesama. Kita menyangka itulah puncak keberuntungan, padahal ia hanyalah hiasan yang kerap kali membuat hati kian gersang.
Seolah-olah, makna keberkahan hanya disempitkan pada angka-angka di atas kertas atau saldo yang terus bertambah, hingga kita lupa untuk sekadar menghirup napas syukur dalam ketenangan.
Padahal, rezeki yang sejati justru sering menyelinap dalam senyap, dalam hal-hal yang sering kita luput mensyukurinya. Ia hadir dalam raga yang masih mampu tegak beribadah, dalam binar mata anak-anak yang tumbuh mencintai kebaikan, serta dalam hati yang merasa cukup (qana’ah) di hadapan Rabb-nya. Itulah kekayaan yang tak bisa ditukar dengan angka, sebuah karunia yang melangit, yang membuat dunia terasa luas meski dalam kesederhanaan.
#wahdahinspirasizakat#SelfReminder#RezekiSejati#WahdahInspirasiZakat#Syukur#Berkah#MuhasabahDiri
